Kembangkan Pariwisata Bojonegoro, Disbudpar Gandeng STIE Cendekia Ajak Mahasiswa Kanada, Perancis dan Malaysia Jelajah Khayangan Api
Kembangkan Pariwisata Bojonegoro, Disbudpar Gandeng STIE Cendekia Ajak Mahasiswa Kanada, Perancis dan Malaysia Jelajah Khayangan Api
BOJONEGORO – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro terus melakukan inovasi dalam mengenalkan potensi pariwisata daerah ke tingkat internasional. Tidak hanya mengandalkan keindahan destinasi, promosi wisata kini dikembangkan melalui konsep pariwisata berbasis pengalaman (experiential tourism), yakni wisatawan diajak melihat, belajar, berinteraksi, dan merasakan langsung budaya lokal.
Salah satu inovasi tersebut diwujudkan melalui Cultural Camp 2026 dengan menggandeng STIE Cendekia serta melibatkan mahasiswa dari Kanada, Perancis, dan Malaysia.
Kegiatan yang dimulai Jumat (2/10/2026) tersebut menjadi sarana memperkenalkan Bojonegoro secara lebih utuh kepada generasi muda mancanegara. Rombongan Cultural Camp mengawali kegiatan dengan bersilaturahmi ke Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan disambut oleh Bupati Bojonegoro.
Cultural Camp 2026 tidak hanya berorientasi pada kunjungan ke destinasi wisata dan pengenalan Geopark Bojonegoro. Para peserta juga diajak mengenal berbagai kekayaan lokal, mulai dari pohon jati, batik, delman, kesenian hingga permainan tradisional.
Konsep ini menjadi bagian dari inovasi promosi pariwisata karena wisatawan mancanegara tidak ditempatkan hanya sebagai penonton, tetapi menjadi peserta aktif dalam pengalaman budaya Bojonegoro.
Khayangan Api Jadi Ruang Edukasi dan Atraksi
Memasuki hari kedua, Disbudpar Bojonegoro mengajak rombongan mengunjungi Museum Bojonegoro dan kawasan wisata Khayangan Api.
Di Khayangan Api, peserta tidak hanya diajak menjelajahi kawasan dan mendengarkan cerita mengenai sejarah serta keunikan fenomena alamnya. Disbudpar mengemas kunjungan tersebut dengan kegiatan edukasi tari dan pertunjukan atraksi api sehingga destinasi memiliki pengalaman tambahan yang dapat dikenang wisatawan.
Kabid Pariwisata Disbudpar Bojonegoro, Amin Asrofin, SH, menjelaskan bahwa pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan atau keunikan suatu tempat.
Menurutnya, ada dua unsur yang harus berjalan beriringan, yaitu pesona destinasi dan aktivitas pendukung di dalam destinasi.
“Dua hal yang selalu berdampingan dalam pariwisata adalah pesona destinasi wisata dan kegiatan pendukung di destinasi tersebut. Karena itu, saat rombongan berkunjung ke Khayangan Api, kami menghadirkan edukasi tari dan atraksi api sebagai bagian dari pengalaman wisata,” ujarnya.
Setelah menjelajahi kawasan Khayangan Api dan mengenal pesona alam serta sejarahnya, peserta Cultural Camp mengikuti edukasi tari di pendopo Khayangan Api.
Dari Melihat Menjadi Mengalami
Inovasi yang dikembangkan Disbudpar terlihat dari perubahan pola kunjungan wisata. Wisatawan tidak hanya datang, berfoto, kemudian pulang. Mereka diajak melihat, mendengar cerita, belajar, mencoba, dan membawa pulang pengalaman.
Saat senja berganti malam, rombongan Cultural Camp menyaksikan pertunjukan tari dan atraksi api. Beberapa peserta kemudian memperoleh kesempatan mengikuti atraksi yang dipandu instruktur dengan penerapan prosedur keselamatan.
Atraksi tersebut sekaligus membawa pesan edukatif mengenai potensi gas dan api. Gas sebagai sumber daya, apabila dikelola secara bijaksana dan aman, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan manusia.
Perpaduan antara fenomena alam Khayangan Api, sejarah lokal, seni tari, edukasi, dan pertunjukan menjadi sebuah paket pengalaman yang memberikan nilai tambah bagi destinasi.
Mahasiswa Mancanegara Menjadi Jembatan Promosi Bojonegoro
Kehadiran mahasiswa dari Kanada, Perancis, dan Malaysia juga membuka peluang promosi yang lebih luas. Pengalaman langsung selama berada di Bojonegoro diharapkan menjadi cerita yang mereka bawa kembali ke negara masing-masing.
Dengan demikian, promosi pariwisata tidak semata-mata dilakukan melalui iklan atau publikasi formal, tetapi melalui pengalaman personal wisatawan mancanegara yang berpotensi menjadi cerita dari mulut ke mulut maupun konten di ruang digital.
Model Cultural Camp juga membuka peluang pengembangan konsep living tourism, yakni destinasi yang hidup karena di dalamnya terdapat interaksi antara wisatawan, masyarakat, budaya, seni, sejarah, dan aktivitas kreatif.
Ke depan, konsep serupa dapat dikembangkan menjadi paket wisata tematik. Wisatawan tidak sekadar berkunjung ke Khayangan Api, tetapi dapat memperoleh satu rangkaian pengalaman: mengenal sejarah, mengikuti workshop tari, mengenal produk UMKM dan batik, menikmati kesenian, hingga mengikuti permainan tradisional.
Dari Destinasi Menuju Ekosistem Pariwisata
Inovasi tersebut sekaligus menunjukkan arah pengembangan pariwisata Bojonegoro dari sekadar menjual destinasi menjadi membangun ekosistem pengalaman wisata.
Apabila terus dikembangkan, pendekatan ini dapat melibatkan lebih banyak pelaku seni, komunitas budaya, UMKM, pemandu wisata, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat sekitar destinasi. Dampak pariwisata pun tidak hanya berupa meningkatnya kunjungan, tetapi juga berpotensi menggerakkan ekonomi masyarakat.
Pada hari terakhir, Minggu (4/10/2026), rangkaian Cultural Camp 2026 akan difokuskan pada kegiatan permainan tradisional.
Melalui Cultural Camp 2026, Disbudpar Bojonegoro bersama STIE Cendekia mencoba menghadirkan wajah baru promosi wisata: Bojonegoro tidak hanya untuk dilihat, tetapi untuk dialami, dipelajari, diceritakan, dan dikenalkan kembali kepada dunia.
Bagian inovasinya saya arahkan pada tiga kekuatan utama: experiential tourism, wisatawan mancanegara sebagai jembatan promosi internasional, dan perubahan dari “menjual destinasi” menjadi “membangun pengalaman serta ekosistem wisata.” Ini membuat beritanya lebih kuat secara konsep tanpa mengubah inti kegiatan yang Anda sampaikan.

Komentar
Posting Komentar