Masjid Ramah Musafir, Ramah UMKM: Wajah Islam yang Membumi di Kalitidu

 Masjid Ramah Musafir, Ramah UMKM: Wajah Islam yang Membumi di Kalitidu

Opini drg. Sofan Solikin 

Di tengah dinamika sosial masyarakat hari ini, masjid tidak lagi cukup hanya menjadi tempat ibadah ritual. Ia harus hadir sebagai pusat peradaban—ruang teduh bagi musafir, penguat ekonomi umat, sekaligus simpul kebersamaan warga. Gambaran itu saya lihat nyata di Masjid Besar Bairurahim, yang terletak di Dusun Krajan, Desa Kalitidu, Kecamatan Kalitidu.

Masjid ini menunjukkan wajah Islam yang ramah dan membumi. Para musafir dipersilakan singgah untuk menunaikan shalat, beristirahat sejenak, bahkan disediakan air mineral gratis sebagai bentuk pelayanan sederhana namun penuh makna. Di saat banyak orang bepergian dalam kondisi lelah, kehadiran masjid yang terbuka seperti ini adalah oase spiritual sekaligus kemanusiaan.

Lebih dari itu, di sekitar masjid tumbuh aktivitas UMKM yang dibina dengan baik. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari ekosistem keberkahan. Masjid menjadi pusat pergerakan ekonomi kecil masyarakat, menghadirkan sinergi antara ibadah dan pemberdayaan. Spiritnya jelas: memakmurkan masjid sekaligus dimakmurkan oleh aktivitas umat.

Kini, Masjid Besar Bairurahim memasuki masa kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Ketua KH Hadi, Wakil Ketua Abah Burhan dan Bapak Yasin, Sekretaris Herman, serta Bendahara dr. Jazuli. Formasi ini memberi harapan akan kesinambungan program serta penguatan tata kelola yang profesional dan amanah.

 Pada periode sebelumnya di era kepemimpinan  ( Alm) H. Abadi Mansyur  fondasi ramah ini sudah ditanamkan dan saat ini diteruskan  dan dikembangkan oleh pengurus selanjutnya 

Momentum Ramadhan 1447 H menjadi bukti nyata semangat tersebut. Kegiatan keagamaan berjalan dengan baik dan penuh antusiasme warga sekitar. Shalat berjamaah, kajian, hingga kegiatan sosial menggambarkan bahwa masjid ini bukan hanya bangunan fisik, tetapi pusat denyut spiritual masyarakat.

Bagi saya, model seperti ini patut menjadi inspirasi. Masjid tidak boleh eksklusif dan tertutup. Ia harus terbuka bagi musafir, bersahabat dengan pelaku UMKM, dan responsif terhadap kebutuhan sosial umat. Ketika fungsi ibadah dan fungsi sosial berjalan beriringan, di situlah masjid benar-benar menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Semoga Masjid Besar Bairurahim Kalitidu terus istiqamah menjadi ruang ibadah yang teduh, pusat ekonomi yang memberdayakan, dan simbol kebersamaan warga. Dari desa, kita belajar bahwa peradaban besar selalu dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dikelola dengan niat tulus dan kepemimpinan yang amanah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ISNU PAC Kalitidu Siap Gelar Pelatihan Pembuatan Sosis Bahan Ikan

ISNU PAC Kalitidu Rencanakan Gelar Pelatihan Gratis Bagi UMKM Warga NU di Kalitidu

Direktur RSM NU Muna Anggita Ucapkan Selamat Atas kesuksesan PC Fatayat NU Bojonegoro Gelar Konfercab